Pages

Selasa, 19 Februari 2013

Rossi Tak Cocok dengan DNA Ducati

Dua musim memperkuat Ducati, Valentino Rossi gagal menorehkan prestasi memuaskan. Kegagalan kerjasama duo Italia itu disebabkan karena DNA Desmosedici tak cocok dengan The Doctor.

Tak ada kemenangan didapat Rossi selama dua tahun memperkuat Ducati. Dalam kurun tersebut raihan terbaiknya hanya tiga kali naik podium, yang masing-masing didapat di MotoGP Prancis (2011 dan 2012) serta seri San Marino (2012).

Disebut bos baru Ducati Motorsport, Bernhard Gobmeier, hal itu terjadi Desmosedici selama dua musim tersebut terus terasa asing oleh Rossi. Itu bukan sekadar soal adaptasi namun karena Desmosedici punya karakteristik yang sangat berbeda dengan Yamaha atau Honda yang pernah ditunggangi rider asal Italia itu.

"Saya percaya dan Ducati juga percaya kalau Valentino adalah salah satu pebalap terbaik yang pernah ada. Tapi saya pikir dia juga menjadi korban dari gen Ducati. Motor mereka (Ducati) tak banyak berubah sejak 2007 sampai ke 2012," ungkap Gobmeier di MCN.

Hingga kini cuma Casey Stoner yang bisa memaksimalkan potensi Ducati. Empat musim memperkuat tim asal Italia itu dalam selang 2007-2010, Stoner sekali menjadi juara dunia dan total meraih 23 kemenangan balapan.

"Motornya semakin membaik tapi pebalap seperti (Marco) Melandri atau Valentino, yang sangat sensitif, berharap ada reaksi tertentu yang dihasilkan motor. Jadi saat mereka tak dapat reaksi tersebut mereka menjadi bingung."

"Cara mereka bereaksi dengan motornya tidak sesuai. Saya percaya kalau Valentino, dari cara dan feel yang dirasakan, sangatlah baik saat dengan Yamaha, dia dapat masalah karena motornya (Ducati) bereaksi dengan cara yang benar-benar berbeda dengan yang sebelumnya dia rasakan."

"Para pebalap ini sudah belajar bagaimana mengendarai motor sejak mereka masih anak-anak. Mereka tidak mengendari dengan otak mereka tapi itu lebih sebagai sebuah perasaan yang alami. Mereka menyerahkan semuanya pada refleks dan jika Anda memberi mereka masukan itu akan terasa aneh. Feeling alami mereka tak terbiasa dengan hal itu dan mereka menjadi harus berpikir apa yang seharusnya dilakukan. Dan saat mereka mulai berpikir mereka menjadi lambat karena cara membalapnya tak lagi alami," papar Gobmeier

Tidak ada komentar:

Posting Komentar